Seri Gaya Hidup Pria

Agenda Kegiatan

Sat, Feb 27th, 2010
Camp - Periode I/ 2010
Sat, May 29th, 2010
Camp - Periode II/ 2010

Login






Lost Password?
No account yet? Register
Men's Camp Periode I - 2010

Maximized Manhood Camp
Jakarta Barat
Periode I - 2010

Wisma Agape, 26 - 27 Oktober 2009

Investasi
Rp. 400.000,- (khusus ALUMNI** Rp. 250.000)

Registrasi via SMS
0816 1311437 dengan format [nama lengkap] [tanggal lahir] [status nikah] [no HP] [no telp rumah] [gereja]

Registrasi via EMAIL
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it  

Pra Camp
22 Februari 2010 pk. 19.00, Lt. 3 Ruko Tama Indah No 36, Blok DR, Jl. Jembatan Tiga

Kelas
Tiap Senin mulai 1 Maret 2010 pk. 19.00 (6 x pertemuan), Philadelphia House, Jl. Daan Mogot No. 167B (50m dari Indosiar ke arah Cengkareng)

Tempat sangat terbatas!
 
** menunjukkan fotokopi sertifikat Maximized Manhood CMNI
 
Men's Camp YoungMen Periode I - 2010
 
Catatan harian Pria Sejati, 11 Oktober 2009
 

By Adhiwardhana Widjajanto, on 19-10-2009 13:18

Published in : Berita, Kesaksian

Hari ini kami sekeluarga demikian sibuk menghabiskan waktu di luar rumah karena hari Minggu. Saat pulang ke rumah sudah menjelang malam dan kami belum makan malam dan tidak ada hidangan yang tersedia di rumah. Putraku yang kelelahan seharian menjelajahi mall, tampaknya mencari perhatian kami... dalam kelelahan, ngantuk dan kelaparannya, dia masih saja lincah ke sana kemari. Hingga terpaksa beberapa kali aku harus dengan nada tinggi dan tatapan mata tajam memarahinya.

Istriku harus menyelesaikan pekerjaan rumah yg terbengkalai sehingga waktu yang sempit tidak memungkinkah untuk kami menunggu memasak makanan apalagi perut sudah lapar. Menit demi menit kutunggu penjual nasi goreng yg tak kunjung lewat juga... sementara angin malam mulai bertiup agak kencang. Anakku yg berumur 4 thn, dia tampan, lincah, kelelahan, kelaparan, dan belum mandi ingin ikut berada di halaman rumah. Karena takut dia masuk angin aku menyuruhnya masuk dan menutup pintu, namun berkali kali dia mengintip dan membuka pintu...

Akhirnya pilihan jatuh pada penjual tahu tek yg lewat. Sekali lagi aku memarahi anakku yg ingin keluar rumah melihat penjual tahu tek... karena kali ini aku agak kasar, jagoan kecilku masuk ke rumah sambil menangis menghentak hentak kan kakinya, mengadu kepada maminya, “PAPI NAKALL!”. Istriku yg sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah berusaha menenangkannya dengan memarahiku.

Mendadak tekanan darahku naik, sebelumnya istriku juga sering menyalahkanku saat anakku menangis setelah aku marahi – aku dianggap menambah beban kesibukan pekerjaan rumahnya dengan membuat putra kami menangis. Aku bangkit dari dudukku! Dan dengan berkacak pinggang serta menatap tajam istriku yg sedang mengambil cucian dari mesin cuci. Saat aku bersiap siap hendak memuntahkan lahar gunung api dalam kepalaku kepada istriku, putraku yang ternyata ada di sampingku berkata sambil menangis dengan tersedu sedu sambil memegang tanganku, “ Papii jangann marah marahh Maami yaah...h... Mami jangann marahh marah Papi... Mami janngan marah marah Samuueel...”

Jagoan kecil kami yg biasanya tidak menangis meski terjatuh, menangis TERSEDU SEDU...!!!! Di balik sikap jagoannya, ternyata perasaannya yang halus terluka karena melihat ke dua orangtua yang dikasihinya akan berseteru. Hatinya yg masih polos dan tidak paham akan kesalahannya terluka saat dirinya di marah marahi terus terusan... oh my God, putraku yg kelelahan & kelaparan.... Dengan sigap istriku mengendong si kecil..., sontak akupun menghampiri istriku untuk membantunya mengambil si kecil dari gendongannya. Dalam gendonganku, dengan air mata berurai dan tersedu sedu, kembali dia berkata :”Papi jangan marah marah Mami...”

“Enggak...”, jawabku sambil mengendong dia utk kedepan rumah...

Namun sekali lagi dia berkata dengan tersedu sedu seakan tidak yakin padaku, “Papi jangan marah marah Mami lagi...”

Roh Kudus bergerak dalam hidupku, “Enggakk, papi enggakk marah marah Mami” jawabku sambil menghampiri istriku..., “Papi sayang Mami” sahutku seraya mencium istriku... “Semi sayang Mami juga” ujarku sambil menggendong putraku & mengarahkannya utk mencium maminya...

Malam ini sambil menemaninya makan tahu tek, aku menjelaskan bahwa aku melarang dan memarahinya bukan karena tidak sayang padanya tapi karena mengkuatirkan dirinya dan sayang padanya. Kami pun saling berbagi, Semi meletakkan telur dadar di piring Papi karena Semi lagi nggak mau, Papi meletakkan potongan demi potongan lontong dan kentang berlumuran petis ke piring semi karena Semi sukaaa.... Semi pun tampak menikmati kebersamaan denganku itu... bahagia... tersenyum...

Malam ini, istri tersayangku keluar dari kamar, ”Semi sudah tidur” kata istriku... ”Semi tadi cerita dengan bangga, ‘Papi sayang Semi!’ katanya, ‘Papi cium Semi waktu semi lagi belajar di kamar!’ “tutur istriku. Ternyata ciumanku kali ini begitu berarti bagi putraku, ciuman yang menghilangkan keraguan seorang anak balita yang tadinya tidak yakin bahwa pribadinya di sayangi oleh papinya yang sering melarang dan memarahinya. Malam ini aku menatap jagoan kecilku yang tertidur pulas kecapekan... buah rumah tangga Illahi dan titipan Tuhan dalam hidupku. Malam ini Semi tidak akan mengigau. Dan malam ini dia tidak akan mengompol karena ekspresi protes jiwanya yg tertekan. Malam ini Semi akan tidur dalam damai dan hati yang sembuh dari luka.

Terima kasih Roh Kudus, jadikan aku pria sejati seutuhnya, sebagai imam & kepala dalam rumah tanggaku... seperti Yesus Tuhanku... 123... pria sejati... yes!!!

Catatan Redaksi:
Kesaksian dari Bp. Samuel Purwanto Wijaya, peserta Men's Camp tahun 2006 di Nam Center. Sekarang berdomisili di Surabaya. Beliau dapat dikontak di k e l a n a _ 2 0 0 0 @ y a h o o . c o . i d.

Komentar (4)
 

Sindikasi

Pendapat Anda

Media komunitas yang anda sukai
 
Menurut anda, berapa kali sebaiknya ikut Men's Camp sebagai peserta?