Agenda Kegiatan

Sat, Sep 25th, 2010
Camp - Periode II/ 2010

Login






Lost Password?
No account yet? Register
We have 1 guest online
Semua Itu Baik: Penderitaan Papa Memberi Kehidupan Bagi Pria Di China PDF Print E-mail
Last Updated ( Kamis, 17 Juni 2010 )
 

By Arman Harijanto, on 16-06-2010 20:20

Published in : Berita, Kesaksian

 Obituari Alm. Bp. Harijanto Tedjosoemarto

Pagi tanggal 2 Juni 2010 sekitar pk. 11.12 wib, saya memperoleh kabar bahwa papa dalam kondisi kritis di RS. Fuda Cancer Hospital, Guangzhou China. Paru-paru sebelah kiri yang pecah menyebabkan papa mengalami pendarahan yang hebat. Setelah 56 menit berjuang untuk mempertahankan detak kehidupan, dokter menyatakan papa sudah tiada. Tepat pk. 11.25 wib, papa telah kembali pulang ke rumah Bapa di Sorga.

 Kami sekeluarga mengetahui Papa menderita kanker di pankreas pada awal Januari 2009 silam. Melalui doa dan berbagai pertimbangan dari berbagai rekan, pihak keluarga memutuskan agar papa berobat ke Guangzhou, China. Tanggal 8 Februari 2009, adalah hari pertama papa berada di Guangzhou untuk serangkaian tindakan medis dengan harapan kanker tidak menyebar dan dapat disembuhkan. Tak disadari, seluruh perjalanan pengobatan papa berlangsung hingga hampir 1,5 tahun.  Selama masa itu, papa mengalami penderitaan sakit yang cukup hebat sejak November 2009. Saya teringat di akhir bulan Januari 2010 seminggu setelah kita melakukan NSG (National Strategic Gathering), saya menemani papa di rumah. Ketika itu saya bergantia n dengan mama menjaga papa yang hampir tiap 3 jam sekali harus muntah-muntah. Entah berapa puluh kali papa muntah sejak saat itu hingga papa meninggal. Sebagai anak, saya tidak tahan melihat penderitaan papa. Tapi diluar, saya mencoba menampilkan ekspresi iman dan pengharapan kepadanya bahwa Tuhan mampu dan mau menyembuhkan papa. Saya berharap papa boleh bangkit imannya. Beberapa rekan dari CMN menyempatkan hadir ke rumah menjenguk dan mendoakan papa. Namun, dalam 2 bulan terakhir, papa selalu berkata “Tuhan, mengapa penderitaan yang aku alami begitu hebat?  Tolong lepaskan aku dari penderitaan ini. Aku tahu Yesus juga pernah menderita, tapi aku sudah tidak sanggup. Jika Engkau berkenan, sembuhkan atau panggil aku kembali pulang ke rumahMu”.

  Memang, penderitaan yang papa alami secara medis sudah tergolong berat. Hasil scan pada bulan Februari 2009 jika dibandingkan dengan akhir Mei 2010 memang sudah jauh berbeda. Cahaya terang berwarna kuning ini menandakan besarnya kanker. Kami menyadari sakit yang diderita begitu luar biasa. Teriakan-terikan kesakitan papa setiap hari menandakan bahwa obat penghilang rasa sakit dosis tinggi sudah tidak mampu mengatasinya. Sulit rasanya melihat wajah papa tersenyum dalam 2 bulan terakhir. Ketika papa beserta mama & adik perempuan berangkat untuk yang ke-4 kalinya ke Guangzhou pada tanggal 27 Mei 2010, saya sempat bercanda dengannya di terminal 2D dan melihat senyumnya secara fisik untuk yang terakhir kalinya. Papa tidak meninggalkan pesan apapun kepada saya ketika itu.

Saya belum siap menerima berita meninggalnya papa melalui sms pada tanggal 2 Juni 2010 pk. 11.44 wib. Ketika itu saya sedang melakukan TFT pembicara di Jakarta. Selain mengurus seluruh persiapan kedatangan jenazah, saya mulai mencari apa pesan papa kepada saya sebelum ia meninggal dunia. Tak ada seorangpun yang merasa menerima pesan tersebut dari papa. Sepanjang perjalanan saya bersama Bastian (adik) menuju Guangzhou, saya mencoba mencari dan, mengingat apakah papa telah berpesan sesuatu. Hingga tiba di Guangzhou, mama bertemu saya di airport, ia tampak tegar walau hatinya tetap tak dapat dipungkiri bahwa ada rasa kehilangan yang sangat kuat. Hari itu, saya dan Bastian belum dapat melihat jenazah papa sampai pada masa menjelang kremasi esok harinya.


Setelah mempersiapkan seluruh keperluan kremasi, kami sekeluarga dijamu makan malam oleh beberapa rekan CMN Guangzhou. Mereka sangat bersimpati atas meninggalnya papa. Saya tidak pernah menyangka bahwa malam itu merupakan titik dimana saya bisa merelakan kepergian papa dalam hidup saya. Mereka menunjukkan sebuah foto dan video klip 1 menit, foto & video terakhir yang diabadikan sehari sebelum papa meninggal. Dalam foto terlihat papa tersenyum sukacita. Ia tersenyum karena rekan-rekan CMN Guangzhou yang menjenguk papa menghibur dan menguatkan iman papa melalui lagu “Aku percaya Tuhanku ajaib...” dalam bahasa Indonesia. Disitulah Tuhan menguatkan hati saya, bahwa papa mengisi hari terakhir hidupnya dengan pengharapan yang pasti. Pada waktu itulah papa sempat berpesan kepada Fita (adik), “Wah bagus ya foto ini. Masukin ya dalam buletin CMN”. Pesan inilah yang menggetarkan hati saya, seakan-akan berkata papa tahu bahwa melalui CMN ada pengharapan dan kekuatan.

 Kami sekeluarga beserta rekan-rekan CMN Guangzhou dan istri tidak pernah membayangkan kehadiran papa berobat di Guangzhou ternyata membawa pergerakan kepriaan di China dan sekarang boleh dirasakan lebih dari 300 keluarga. Kami teringat ada seorang warga negara Indonesia yang menjenguk kami pada 9 Februari 2009 di rumah sakit di Guangzhou. Ia seorang yang memiliki hati untuk pemulihan keluarga di China. Melalui beliaulah akhirnya, pergerakan kepriaan dimulai di Guangzhou dan Xiamen. Terima kasih kepada Tuhan yang selalu mempunyai re ncana yang tak bisa dibayangkan oleh manusia. Tim inti CMN Guangzhou menganggap papa adalah “pintu” pemulihan dari Tuhan. Tak heran ketika prosesi kremasi, lebih dari 30 orang alumni CMN Guangzhou hadir untuk memberikan kekuatan kepada kami sekeluarga. Mereka mungkin tak mengenal papa, tapi sekarang mereka mengenal Tuhan yang hidup, keluarga mereka merasakan pemulihan dari Tuhan.

Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh pria di dunia. Kematian di dalam Tuhan akan menghasilkan Kehidupan. Tinggal bersama Tuhan dan Tuhan bersama Anda, Anda pasti berbuah banyak. Walau papa kami mengalami penderitaan selama lebih dari 1 tahun, hidupnya berakhir dengan menghasilkan "buah yang banyak di China".
Sepertinya sedang mengalami musim gugur, namun sesungguhnya musim semi dimulai bagi pria-pria di China.
Komentar (4)
Catatan harian Pria Sejati, 11 Oktober 2009 PDF Print E-mail
Last Updated ( Kamis, 22 April 2010 )
 

By Adhiwardhana Widjajanto, on 19-10-2009 13:18

Published in : Berita, Kesaksian

Hari ini kami sekeluarga demikian sibuk menghabiskan waktu di luar rumah karena hari Minggu. Saat pulang ke rumah sudah menjelang malam dan kami belum makan malam dan tidak ada hidangan yang tersedia di rumah. Putraku yang kelelahan seharian menjelajahi mall, tampaknya mencari perhatian kami... dalam kelelahan, ngantuk dan kelaparannya, dia masih saja lincah ke sana kemari. Hingga terpaksa beberapa kali aku harus dengan nada tinggi dan tatapan mata tajam memarahinya.

Istriku harus menyelesaikan pekerjaan rumah yg terbengkalai sehingga waktu yang sempit tidak memungkinkah untuk kami menunggu memasak makanan apalagi perut sudah lapar. Menit demi menit kutunggu penjual nasi goreng yg tak kunjung lewat juga... sementara angin malam mulai bertiup agak kencang. Anakku yg berumur 4 thn, dia tampan, lincah, kelelahan, kelaparan, dan belum mandi ingin ikut berada di halaman rumah. Karena takut dia masuk angin aku menyuruhnya masuk dan menutup pintu, namun berkali kali dia mengintip dan membuka pintu...

Akhirnya pilihan jatuh pada penjual tahu tek yg lewat. Sekali lagi aku memarahi anakku yg ingin keluar rumah melihat penjual tahu tek... karena kali ini aku agak kasar, jagoan kecilku masuk ke rumah sambil menangis menghentak hentak kan kakinya, mengadu kepada maminya, “PAPI NAKALL!”. Istriku yg sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah berusaha menenangkannya dengan memarahiku.

Mendadak tekanan darahku naik, sebelumnya istriku juga sering menyalahkanku saat anakku menangis setelah aku marahi – aku dianggap menambah beban kesibukan pekerjaan rumahnya dengan membuat putra kami menangis. Aku bangkit dari dudukku! Dan dengan berkacak pinggang serta menatap tajam istriku yg sedang mengambil cucian dari mesin cuci. Saat aku bersiap siap hendak memuntahkan lahar gunung api dalam kepalaku kepada istriku, putraku yang ternyata ada di sampingku berkata sambil menangis dengan tersedu sedu sambil memegang tanganku, “ Papii jangann marah marahh Maami yaah...h... Mami jangann marahh marah Papi... Mami janngan marah marah Samuueel...”

Jagoan kecil kami yg biasanya tidak menangis meski terjatuh, menangis TERSEDU SEDU...!!!! Di balik sikap jagoannya, ternyata perasaannya yang halus terluka karena melihat ke dua orangtua yang dikasihinya akan berseteru. Hatinya yg masih polos dan tidak paham akan kesalahannya terluka saat dirinya di marah marahi terus terusan... oh my God, putraku yg kelelahan & kelaparan.... Dengan sigap istriku mengendong si kecil..., sontak akupun menghampiri istriku untuk membantunya mengambil si kecil dari gendongannya. Dalam gendonganku, dengan air mata berurai dan tersedu sedu, kembali dia berkata :”Papi jangan marah marah Mami...”

“Enggak...”, jawabku sambil mengendong dia utk kedepan rumah...

Namun sekali lagi dia berkata dengan tersedu sedu seakan tidak yakin padaku, “Papi jangan marah marah Mami lagi...”

Roh Kudus bergerak dalam hidupku, “Enggakk, papi enggakk marah marah Mami” jawabku sambil menghampiri istriku..., “Papi sayang Mami” sahutku seraya mencium istriku... “Semi sayang Mami juga” ujarku sambil menggendong putraku & mengarahkannya utk mencium maminya...

Malam ini sambil menemaninya makan tahu tek, aku menjelaskan bahwa aku melarang dan memarahinya bukan karena tidak sayang padanya tapi karena mengkuatirkan dirinya dan sayang padanya. Kami pun saling berbagi, Semi meletakkan telur dadar di piring Papi karena Semi lagi nggak mau, Papi meletakkan potongan demi potongan lontong dan kentang berlumuran petis ke piring semi karena Semi sukaaa.... Semi pun tampak menikmati kebersamaan denganku itu... bahagia... tersenyum...

Malam ini, istri tersayangku keluar dari kamar, ”Semi sudah tidur” kata istriku... ”Semi tadi cerita dengan bangga, ‘Papi sayang Semi!’ katanya, ‘Papi cium Semi waktu semi lagi belajar di kamar!’ “tutur istriku. Ternyata ciumanku kali ini begitu berarti bagi putraku, ciuman yang menghilangkan keraguan seorang anak balita yang tadinya tidak yakin bahwa pribadinya di sayangi oleh papinya yang sering melarang dan memarahinya. Malam ini aku menatap jagoan kecilku yang tertidur pulas kecapekan... buah rumah tangga Illahi dan titipan Tuhan dalam hidupku. Malam ini Semi tidak akan mengigau. Dan malam ini dia tidak akan mengompol karena ekspresi protes jiwanya yg tertekan. Malam ini Semi akan tidur dalam damai dan hati yang sembuh dari luka.

Terima kasih Roh Kudus, jadikan aku pria sejati seutuhnya, sebagai imam & kepala dalam rumah tanggaku... seperti Yesus Tuhanku... 123... pria sejati... yes!!!

Catatan Redaksi:
Kesaksian dari Bp. Samuel Purwanto Wijaya, peserta Men's Camp tahun 2006 di Nam Center. Sekarang berdomisili di Surabaya. Beliau dapat dikontak di k e l a n a _ 2 0 0 0 @ y a h o o . c o . i d.

 

Komentar (6)
Peneguhan PJA se-Indonesia PDF Print E-mail
Last Updated ( Kamis, 26 Pebruari 2009 )
 

By Adhiwardhana Widjajanto, on 24-02-2009 09:25

Published in : Berita, Pertemuan dan Gathering


Sejak munculnya CMN di Indonesia, gerakan Pria Kristen ini telah menyebar sampai ke pelosok daerah. Camp diadakan di berbagai tempat, inisiator/ pemimpin baru bermunculan. Untuk menyatukan visi, CMN Indonesia mengadakan acara Peneguhan PJA (Penanggung Jawab Area) se-Indonesia yang diadakan tanggal 17 Februari 2009 di Resto Nelayan, Jakarta. CMN Barat diwakili oleh Bp. Agus Susatwa (Tim PJA), Bp. Halim Wijaya (Tim PJA), dan Bp. Liang Ibrahim (Ketua Camp).

Acara dimulai 15 menit lewat dari jadual 11.00, dibuka oleh Direktur Eksekutif yang baru, Bp. Arman Harijanto, dan dilanjutkan dengan makan siang. Terlihat peserta yang datang cukup mewakili keseluruhan area di Indonesia, diantaranya perwakilan dari Batam, Jambi, Medan, Palembang, Bengkulu, Cikampek, bandung, Jogjakarta, Surabaya, Madiun, Malang, Jember, Sumbawa, Manado, Makasar. Kemudian juga terlihat perwakilan dari track Young Men , Modul 2, Modul 3, dan Hamba Tuhan. Tak ketinggalan dari Australia Bp. William Ho, Board of Directors CMN Indonesia Bp. Budi Jonatan, Bp. Hendra Zefanya, Bp. Ronny Soedjak, serta Bp. Eddy Leo dan Bp. Alexander Kandou sebagai Board of Advisors.

Setelah absensi, acara dilanjutkan dengan penyampaian fokus gerakan pria sejati Indonesia, One Heart - One Mind - One Voice. Para peserta juga diingatkan kembali mengenai visi CMN untuk Memaksimalkan peranan CMN Indonesia sebagai Fasilitator, Katalisator, dan Jaringan. Sesi ini ditutup dengan seremoni peneguhan PJA, per area maju ke depan untuk didoakan.

Setelah coffee break, Firman Tuhan dibawakan oleh Bp. Eddy Leo, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab seputar kegerakan, kendala di area, dan hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan di lapangan. Acara ditutup pukul 16.00 dengan doa oleh Bp. Eddy Leo.
Komentar (3)
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 18 of 24

Komentar Terakhir

Semua Itu Baik: Penderitaan Papa...
seperti yang bro Arman saksikan pada...
Selanjutnya...
Oleh andreas harry p

Sindikasi

Pendapat Anda

Media komunitas yang anda sukai
 
Menurut anda, berapa kali sebaiknya ikut Men's Camp sebagai peserta?