Agenda Kegiatan

Sat, Oct 9th, 2010
Camp - Periode II/ 2010

Login






Lost Password?
No account yet? Register
We have 1 guest online
Catatan harian Pria Sejati, 11 Oktober 2009 PDF Print E-mail
Last Updated ( Kamis, 22 April 2010 )
 

By Adhiwardhana Widjajanto, on 19-10-2009 13:18

Published in : Berita, Kesaksian

Hari ini kami sekeluarga demikian sibuk menghabiskan waktu di luar rumah karena hari Minggu. Saat pulang ke rumah sudah menjelang malam dan kami belum makan malam dan tidak ada hidangan yang tersedia di rumah. Putraku yang kelelahan seharian menjelajahi mall, tampaknya mencari perhatian kami... dalam kelelahan, ngantuk dan kelaparannya, dia masih saja lincah ke sana kemari. Hingga terpaksa beberapa kali aku harus dengan nada tinggi dan tatapan mata tajam memarahinya.

Istriku harus menyelesaikan pekerjaan rumah yg terbengkalai sehingga waktu yang sempit tidak memungkinkah untuk kami menunggu memasak makanan apalagi perut sudah lapar. Menit demi menit kutunggu penjual nasi goreng yg tak kunjung lewat juga... sementara angin malam mulai bertiup agak kencang. Anakku yg berumur 4 thn, dia tampan, lincah, kelelahan, kelaparan, dan belum mandi ingin ikut berada di halaman rumah. Karena takut dia masuk angin aku menyuruhnya masuk dan menutup pintu, namun berkali kali dia mengintip dan membuka pintu...

Akhirnya pilihan jatuh pada penjual tahu tek yg lewat. Sekali lagi aku memarahi anakku yg ingin keluar rumah melihat penjual tahu tek... karena kali ini aku agak kasar, jagoan kecilku masuk ke rumah sambil menangis menghentak hentak kan kakinya, mengadu kepada maminya, “PAPI NAKALL!”. Istriku yg sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah berusaha menenangkannya dengan memarahiku.

Mendadak tekanan darahku naik, sebelumnya istriku juga sering menyalahkanku saat anakku menangis setelah aku marahi – aku dianggap menambah beban kesibukan pekerjaan rumahnya dengan membuat putra kami menangis. Aku bangkit dari dudukku! Dan dengan berkacak pinggang serta menatap tajam istriku yg sedang mengambil cucian dari mesin cuci. Saat aku bersiap siap hendak memuntahkan lahar gunung api dalam kepalaku kepada istriku, putraku yang ternyata ada di sampingku berkata sambil menangis dengan tersedu sedu sambil memegang tanganku, “ Papii jangann marah marahh Maami yaah...h... Mami jangann marahh marah Papi... Mami janngan marah marah Samuueel...”

Jagoan kecil kami yg biasanya tidak menangis meski terjatuh, menangis TERSEDU SEDU...!!!! Di balik sikap jagoannya, ternyata perasaannya yang halus terluka karena melihat ke dua orangtua yang dikasihinya akan berseteru. Hatinya yg masih polos dan tidak paham akan kesalahannya terluka saat dirinya di marah marahi terus terusan... oh my God, putraku yg kelelahan & kelaparan.... Dengan sigap istriku mengendong si kecil..., sontak akupun menghampiri istriku untuk membantunya mengambil si kecil dari gendongannya. Dalam gendonganku, dengan air mata berurai dan tersedu sedu, kembali dia berkata :”Papi jangan marah marah Mami...”

“Enggak...”, jawabku sambil mengendong dia utk kedepan rumah...

Namun sekali lagi dia berkata dengan tersedu sedu seakan tidak yakin padaku, “Papi jangan marah marah Mami lagi...”

Roh Kudus bergerak dalam hidupku, “Enggakk, papi enggakk marah marah Mami” jawabku sambil menghampiri istriku..., “Papi sayang Mami” sahutku seraya mencium istriku... “Semi sayang Mami juga” ujarku sambil menggendong putraku & mengarahkannya utk mencium maminya...

Malam ini sambil menemaninya makan tahu tek, aku menjelaskan bahwa aku melarang dan memarahinya bukan karena tidak sayang padanya tapi karena mengkuatirkan dirinya dan sayang padanya. Kami pun saling berbagi, Semi meletakkan telur dadar di piring Papi karena Semi lagi nggak mau, Papi meletakkan potongan demi potongan lontong dan kentang berlumuran petis ke piring semi karena Semi sukaaa.... Semi pun tampak menikmati kebersamaan denganku itu... bahagia... tersenyum...

Malam ini, istri tersayangku keluar dari kamar, ”Semi sudah tidur” kata istriku... ”Semi tadi cerita dengan bangga, ‘Papi sayang Semi!’ katanya, ‘Papi cium Semi waktu semi lagi belajar di kamar!’ “tutur istriku. Ternyata ciumanku kali ini begitu berarti bagi putraku, ciuman yang menghilangkan keraguan seorang anak balita yang tadinya tidak yakin bahwa pribadinya di sayangi oleh papinya yang sering melarang dan memarahinya. Malam ini aku menatap jagoan kecilku yang tertidur pulas kecapekan... buah rumah tangga Illahi dan titipan Tuhan dalam hidupku. Malam ini Semi tidak akan mengigau. Dan malam ini dia tidak akan mengompol karena ekspresi protes jiwanya yg tertekan. Malam ini Semi akan tidur dalam damai dan hati yang sembuh dari luka.

Terima kasih Roh Kudus, jadikan aku pria sejati seutuhnya, sebagai imam & kepala dalam rumah tanggaku... seperti Yesus Tuhanku... 123... pria sejati... yes!!!

Catatan Redaksi:
Kesaksian dari Bp. Samuel Purwanto Wijaya, peserta Men's Camp tahun 2006 di Nam Center. Sekarang berdomisili di Surabaya. Beliau dapat dikontak di k e l a n a _ 2 0 0 0 @ y a h o o . c o . i d.

 

   

Users' Comments  
 

Average user rating

 

Display 5 of 6 comments

By: Steve Luther on 09-06-2010 23:02

Shalom. 
 
Jika kita ingin dipakai oleh Tuhan, tidak ada cara lain melainkan menjadi serupa dengan Kristus Yesus. kalau kita menjadi serupa dengan Yesus, ini bererti permulaannya kita berjalan di dalam berkat nya Tuhan.

 

» Balas komentar ini...

By: Putu Bagiarsawan on 12-04-2010 05:45

Luar biasa, sbg seorang suami dan papa yg baik kt hrs melakukan hal tsb krn itu merupakan tanggungjawab kt dan Tuhan tlh mempercayakan kt merawat,menjaga,melindungix. Jd sbg org yg percaya kt hrs melakukan KASIH dlm hdp keluarga kt dan pd masyarakat, pria sejati 123 yes

 

» Balas komentar ini...

By: Salamat on 04-02-2010 08:05

Kesaksian yg indah... Ini menjadi inspirasi bagi kaum pria agar tidak mengedepankan emosi. Ini menjadi teladan bagi saya pribadi bahwa istri dan anak itu adalah anugerah terindah dari Tuhan. GBU

 

» Balas komentar ini...

By: Susantri on 11-01-2010 22:11

Luar biasa,hidup pria sejati,maju terus jadi teladan buat kemuliaan Tuhan.1 2 3,yes.

 

» Balas komentar ini...

By: jay on 04-11-2009 05:22

Cerita yang bagus. Kalau dilihat kesalahan yang anda buat sendiri karena kecapean keliling Mall dgn keluarga. Dan masalah karena perut. ini bisa terulang kembali kalau anda tidak mengoreksi masalah. Saran saya, Kalau anda dan keluarga jalan-jalan hendaknya makan dulu. Kalau perut kenyang anda akan berpikir dgn logis dan tidak cepat emosi. Soalnya itu pernah saya. Gbu.

 

» Balas komentar ini...

Display 5 of 6 comments



Tambahkan komentar Anda
Name
E-mail
 
Komentar
 
Jumlah huruf yang tersisa: 600
 
  This image contains a scrambled text, it is using a combination of colors, font size, background, angle in order to disallow computer to automate reading. You will have to reproduce it to post on my homepage
Enter what you see:

   
   

More comments...



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev   Next >

Komentar Terakhir

Semua Itu Baik: Penderitaan Papa...
seperti yang bro Arman saksikan pada...
Selanjutnya...
Oleh andreas harry p

Sindikasi

Pendapat Anda

Media komunitas yang anda sukai
 
Menurut anda, berapa kali sebaiknya ikut Men's Camp sebagai peserta?