|
Itulah tema dalam Temu Alumni Pembinaan Pria Sejati area Jakarta Barat 20 Juni lalu. Dihadiri hampir seratus alumni dari berbagai angkatan dan gereja, membuat suasana hidup dengan jabat tangan dan salam khas CMN, obrolan kangen dan pertemuan antara pembina dan peserta. Acara dibuka oleh Bapak Agus Gunawan (Koordinator Acara PPS Jakarta Barat), 30 menit melewati jadual seharusnya (pk. 19.00).
Kata sambutan yang seharusnya disampaikan oleh Bapak Seno Widjaja, selaku pembimbing dalam pelayanan ini, yang juga hadir dalam acara tersebut entah kenapa ditiadakan, dan langsung dilanjutkan dengan pujian dan penyembahan yang dimotori oleh Bapak Sin Mulyadi beserta tim lengkap dari profetik. Lagu demi lagu dengan khas suara 100% para pria memang memiliki nuansa tersendiri. Para alumni seakan terbawa dengan kenangan semasa camp dan pembinaan, membawa beberapa diantaranya kepada kasih Allah mula-mula, awal dari pemulihan. Keceriaan terpancar dari para peserta yang hadir. Acara dilanjutkan dengan kesaksian, suatu momen khas CMN juga, yang menantang para pria untuk mengaku dosa, mengambil komitmen, menceritakan pengalaman hidup bersama Allah di depan seluruh peserta. Tidak seperti biasanya, kali ini kesaksian telah dipersiapkan sebelumnya oleh panitia. Dipandu oleh Bapak Agus, kesaksian pertama dari Bapak Andry Oktavianus (peserta periode I / 2003) yang menceritakan tentang masa-masa pra nikahnya dengan Inez, calon istrinya. Pak Andry menceritakan betapa dia mendapat pelajaran berharga tentang menjadi pendengar yang baik, sering memulai untuk meminta maaf, saling membangun disaat konflik, dan mengisi masa pra-nikah dengan sesuatu yang berguna. Sempat tertuduh saat calon istrinya berkata "apa yang kamu dapat di Pria Sejati kalau mengambilkan sepatu Inez yang kehujanan saja tidak mau..." Pak Andry diajar untuk mengambil sikap. Kemudian dilanjutkan dengan Bapak Martinus Silalahi (peserta periode II / 2003) yang menceritakan betapa beratnya perjuangan melawan godaan iblis disaat sendirian. Diceritakan pengalamannya untuk lari dari godaan itu dengan membaca Firman dengan keras, yang mengingatkannya kembali pada komitmennya pada Allah, pada keluarga. Ditambahkan, Pak Martinus merasa sangat diberkati dalam pelayanan ini sehingga menaruh komitmennya pada pelayanan Pria Sejati, membina, menjadi saluran berkat untuk pria lainnya. Bapak Junaidy Suroso (pembina sejak periode I / 2003) menceritakan tentang bagaimana dia dibentuk kembali untuk bersikap lebih lembut kepada istri. Sementara Bapak Indrawan (supervisor sejak periode I / 2003) bersaksi bahwa dulu ada rasa pemberontakan dalam diri karena tidak memikiki gambar diri seorang suami, seorang ayah. Sesi demi sesi diikuti dengan hancur hati, dan akhirnya mendapatkan apa yang dicari dalam Pembinaan Pria Sejati, dan juga mendapat panggilan Allah untuk melayani di sini. Pak Indrawan juga mendapat pengajaran untuk merendahkan hati dalam kehidupan bersuami istri. Menyadari bahwa komunikasi adalah hal yang penting dalam menjalin hubungan, berkata-kata lembut dan tidak pernah capai dan bosan untuk meminta maaf. Seusai keempat kesaksian yang membuat peserta melongo, tertawa, tertegun, dan diberkati, acara dihentakkan kembali dengan pujian dan penyembahan. Sepertinya Pak Sin Mulyadi dan tim tidak kehabisan energi meskipun waktu sudah relatif malam. Kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang tidak biasa, sulap. Bapak Dwi Handoyo (peserta periode I / 2005) memulai dengan kata pembuka "...bagi para kharismatik, jangan ditengking, ini bukan sihir..." yang membuat seluruh peserta tertawa. Dimulai dengan kotak kosong, yang menggambarkan para pria dalam keadaan pulih, yang selalu "keep on fire" (tiba-tiba api menyala di dalam kotak) dalam kegerakan CMN. Dilanjutkan dengan buku kosong putih yang menggambarkan manusia mula-mula tanpa dosa. Kemudian dengan satu tepukan pada buku menggambarkan satu perbuatan dosa oleh satu orang, yaitu Adam, membuat kita semua berdosa (seluruh lembar buku menjadi hitam). "CMN hanya perantara", demikian katanya, "dan kalau tidak ada Yesus dalam diri saudara, anda akan tetap hidup dalam dosa". Dengan sekali tepukan lagi di buku, seluruh halaman menjadi merah muda bergambarkan salib Yesus. Setelah beberapa trik sulap lagi kemudian ditutup dengan satu trik yang benar-benar akan selalu diingat oleh setiap peserta, bagaimana kita sebagai anak Allah yang hidup di dalamNya tidak akan dapat dipengaruhi oleh dunia luar, malah bisa dan harus menjadi terang bagi lingkungannya. Seperti tema di atas, acara berikut diisi oleh pujian dan penyembahan dan dilanjutkan dengan kesaksian oleh Bapak Nugraha Wijaya (peserta periode II / 2005), yang diajarkan Allah untuk taat dalam perpuluhan, sehingga kehidupannya menjadi semakin diberkati. Kemudian dilanjutkan dengan kesaksian Bapak Tony Tulus (peserta periode II / 2004) yang sangat menggugah hati. Setelah empat kali mengikuti pembinaan istrinya baru berkata, "Pi, kamu sekarang berubah..." Suatu kebanggaan sekaligus tantangan baru untuk selalu berusaha serupa dengan Kristus. Dilanjutkan dengan Bapak Gunardi (peserta periode II / 2004) yang mengisi hari-harinya dengan pelayanan demi pelayanan sehingga melupakan keluarga di rumah. Akhirnya sadar bahwa keluarga adalah pelayanan prioritas. Hubungan dengan keluarga kemudian semakin dipulihkan, menjadi teladan buat anggota keluarga lainnya. Bapak Sandera Noverianto (pembina sejak periode I / 2003), sebagai salah satu pekerja terlama pada pelayanan PPS Jakarta Barat ini, hampir saja mundur karena beban pribadi dan keluarga. Tapi diingatkan kembali oleh Allah disaat ibadah mengenai panggilannya. "Jangan pernah menyerah...". Setelah diselingi dengan sulap lagi oleh Bapak Dwi Handoyo, kesaksian terakhir ditutup oleh Bapak Michael Tedja (peserta periode III / 2004), yang bercerita tentang suka dukanya hidup dalam pernikahan. Beberapa tips dari Pak Michael bagi para pria:
- Tidak ada dua orang yang 100% cocok, sesuai. Hanya dengan Yesus yang bisa menyelaraskan kita dalam hidup berkeluarga.
- Hidup itu tidak gampang, jadi dalam kehidupan harus punya prinsip.
- Minta masukan dan penilaian dari anggota tentang hidup kita sendiri. Jadikan hal tersebut acara rutin untuk bisa mengubah diri sendiri menjadi lebih sempurna.
- Selesaikan konflik dan masalah rumah tangga secepat mungkin. Tidak melebihi satu hari. Tips praktis dengan berkomitmen untuk menempelkan bantal tidur, agar memacu penyelesaian masalah.
- Hidup harus memiliki sikap. Jangan mudah terpengaruh dengan dunia luar.
- Berikan pujian yang membangun untuk memacu orang lain berubah menjadi lebih baik.
Acara ditutup sekitar pukul 22.30 dengan doa dipimpin oleh Bapak Arman Harijanto (Koordinator PPS Jakarta Barat). Cukup larut bagi sebagian besar peserta yang sudah berkeluarga. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat dan api yang telah dikobarkan kembali. Kita semua pulang dengan hati baru, semangat baru. |
|
|