|
Obituari Alm. Bp. Harijanto Tedjosoemarto
Pagi tanggal 2 Juni 2010 sekitar pk. 11.12 wib, saya memperoleh kabar bahwa papa dalam kondisi kritis di RS. Fuda Cancer Hospital, Guangzhou China. Paru-paru sebelah kiri yang pecah menyebabkan papa mengalami pendarahan yang hebat. Setelah 56 menit berjuang untuk mempertahankan detak kehidupan, dokter menyatakan papa sudah tiada. Tepat pk. 11.25 wib, papa telah kembali pulang ke rumah Bapa di Sorga.
Kami sekeluarga mengetahui Papa menderita kanker di pankreas pada awal Januari 2009 silam. Melalui doa dan berbagai pertimbangan dari berbagai rekan, pihak keluarga memutuskan agar papa berobat ke Guangzhou, China. Tanggal 8 Februari 2009, adalah hari pertama papa berada di Guangzhou untuk serangkaian tindakan medis dengan harapan kanker tidak menyebar dan dapat disembuhkan. Tak disadari, seluruh perjalanan pengobatan papa berlangsung hingga hampir 1,5 tahun. Selama masa itu, papa mengalami penderitaan sakit yang cukup hebat sejak November 2009. Saya teringat di akhir bulan Januari 2010 seminggu setelah kita melakukan NSG (National Strategic Gathering), saya menemani papa di rumah. Ketika itu saya bergantia n dengan mama menjaga papa yang hampir tiap 3 jam sekali harus muntah-muntah. Entah berapa puluh kali papa muntah sejak saat itu hingga papa meninggal. Sebagai anak, saya tidak tahan melihat penderitaan papa. Tapi diluar, saya mencoba menampilkan ekspresi iman dan pengharapan kepadanya bahwa Tuhan mampu dan mau menyembuhkan papa. Saya berharap papa boleh bangkit imannya. Beberapa rekan dari CMN menyempatkan hadir ke rumah menjenguk dan mendoakan papa. Namun, dalam 2 bulan terakhir, papa selalu berkata “Tuhan, mengapa penderitaan yang aku alami begitu hebat? Tolong lepaskan aku dari penderitaan ini. Aku tahu Yesus juga pernah menderita, tapi aku sudah tidak sanggup. Jika Engkau berkenan, sembuhkan atau panggil aku kembali pulang ke rumahMu”. Memang, penderitaan yang papa alami secara medis sudah tergolong berat. Hasil scan pada bulan Februari 2009 jika dibandingkan dengan akhir Mei 2010 memang sudah jauh berbeda. Cahaya terang berwarna kuning ini menandakan besarnya kanker. Kami menyadari sakit yang diderita begitu luar biasa. Teriakan-terikan kesakitan papa setiap hari menandakan bahwa obat penghilang rasa sakit dosis tinggi sudah tidak mampu mengatasinya. Sulit rasanya melihat wajah papa tersenyum dalam 2 bulan terakhir. Ketika papa beserta mama & adik perempuan berangkat untuk yang ke-4 kalinya ke Guangzhou pada tanggal 27 Mei 2010, saya sempat bercanda dengannya di terminal 2D dan melihat senyumnya secara fisik untuk yang terakhir kalinya. Papa tidak meninggalkan pesan apapun kepada saya ketika itu. Saya belum siap menerima berita meninggalnya papa melalui sms pada tanggal 2 Juni 2010 pk. 11.44 wib. Ketika itu saya sedang melakukan TFT pembicara di Jakarta. Selain mengurus seluruh persiapan kedatangan jenazah, saya mulai mencari apa pesan papa kepada saya sebelum ia meninggal dunia. Tak ada seorangpun yang merasa menerima pesan tersebut dari papa. Sepanjang perjalanan saya bersama Bastian (adik) menuju Guangzhou, saya mencoba mencari dan, mengingat apakah papa telah berpesan sesuatu. Hingga tiba di Guangzhou, mama bertemu saya di airport, ia tampak tegar walau hatinya tetap tak dapat dipungkiri bahwa ada rasa kehilangan yang sangat kuat. Hari itu, saya dan Bastian belum dapat melihat jenazah papa sampai pada masa menjelang kremasi esok harinya.
 Setelah mempersiapkan seluruh keperluan kremasi, kami sekeluarga dijamu makan malam oleh beberapa rekan CMN Guangzhou. Mereka sangat bersimpati atas meninggalnya papa. Saya tidak pernah menyangka bahwa malam itu merupakan titik dimana saya bisa merelakan kepergian papa dalam hidup saya. Mereka menunjukkan sebuah foto dan video klip 1 menit, foto & video terakhir yang diabadikan sehari sebelum papa meninggal. Dalam foto terlihat papa tersenyum sukacita. Ia tersenyum karena rekan-rekan CMN Guangzhou yang menjenguk papa menghibur dan menguatkan iman papa melalui lagu “Aku percaya Tuhanku ajaib...” dalam bahasa Indonesia. Disitulah Tuhan menguatkan hati saya, bahwa papa mengisi hari terakhir hidupnya dengan pengharapan yang pasti. Pada waktu itulah papa sempat berpesan kepada Fita (adik), “Wah bagus ya foto ini. Masukin ya dalam buletin CMN”. Pesan inilah yang menggetarkan hati saya, seakan-akan berkata papa tahu bahwa melalui CMN ada pengharapan dan kekuatan. Kami sekeluarga beserta rekan-rekan CMN Guangzhou dan istri tidak pernah membayangkan kehadiran papa berobat di Guangzhou ternyata membawa pergerakan kepriaan di China dan sekarang boleh dirasakan lebih dari 300 keluarga. Kami teringat ada seorang warga negara Indonesia yang menjenguk kami pada 9 Februari 2009 di rumah sakit di Guangzhou. Ia seorang yang memiliki hati untuk pemulihan keluarga di China. Melalui beliaulah akhirnya, pergerakan kepriaan dimulai di Guangzhou dan Xiamen. Terima kasih kepada Tuhan yang selalu mempunyai re ncana yang tak bisa dibayangkan oleh manusia. Tim inti CMN Guangzhou menganggap papa adalah “pintu” pemulihan dari Tuhan. Tak heran ketika prosesi kremasi, lebih dari 30 orang alumni CMN Guangzhou hadir untuk memberikan kekuatan kepada kami sekeluarga. Mereka mungkin tak mengenal papa, tapi sekarang mereka mengenal Tuhan yang hidup, keluarga mereka merasakan pemulihan dari Tuhan. Tulisan ini saya persembahkan kepada seluruh pria di dunia. Kematian di dalam Tuhan akan menghasilkan Kehidupan. Tinggal bersama Tuhan dan Tuhan bersama Anda, Anda pasti berbuah banyak. Walau papa kami mengalami penderitaan selama lebih dari 1 tahun, hidupnya berakhir dengan menghasilkan "buah yang banyak di China". Sepertinya sedang mengalami musim gugur, namun sesungguhnya musim semi dimulai bagi pria-pria di China.
|
|
|
By: andreas harry p on 19-07-2010 17:09
seperti yang bro Arman saksikan pada camp PS 17-18 juli 2010 Agape Resort.
Persaudaraan dalam komunitas CMN telah banyak membantu Pria seluruh dunia mengalami pemulihan, maju terus bro Arman, Kristus telah banyak merubah kondisi laki laki sontoloyo menjadi Pria Sejati melewati apa yang bro ungkapkan dalam 2 sesi saat itu + putra yg baru berumur 4.5 mampu menghafalkan ayat dan itu sangat memotivasi saya untuk juga bisa
lebih serius menghafal ayat firman (4M)+ 1m (menghafal).
JBU bro Arman
» Balas komentar ini...