| By Novry Simanjuntak,
on 18-02-2008 12:40
|
Published in : Artikel, Pria |
Manusia ditakdirkan untuk berpasang-pasangan. Setelah dewasa, manusia akan mencari pasangan dengan sendirinya. Tujuan akhir mereka adalah menuju jenjang pernikahan untuk membentuk sebuah keluarga. Dalam perjalanannya, terkadang banyak jalan berliku atau larangan yang mereka langgar hingga akhirnya berimbas sampai mereka berkeluarga.
Pergaulan remaja sekarang ini yang bisa dibilang sudah terlalu bebas bisa menjadi sebab ketidakharmonisan sebuah keluarga. Misalkan saja mengenai hubungan seksual pra nikah yang berujung pada kehamilan dan pernikahan dini. Walaupun mereka saling mencintai, tetapi pernikahan mereka dilakukan atas dasar paksaan. Hal ini bisa menimbulkan tekanan psikologi yang mendalam bagi keduanya. Bahkan juga perasaan dendam dengan pasangannya.
Di awal pernikahan mungkin mereka merasa dan terlihat bahagia, tapi setelah beberapa tahun kemudian akan muncul beberapa konflik. Atau juga mereka bisa menutup-nutupi permasalahan dengan berpura-pura harmonis dan baik dengan pasangan. Di belakang, mereka bisa saja saling melemparkan kata-kata kotor, menuduh dengan sengit, melakukan kekejaman fisik akibat persoalan yang tidak bisa dipecahkan, perbuatan yang tidak mengampuni atau kasih yang tidak sepenuhnya.
Dalam hubungan mereka masih ada yang mengganjal dan rasa tidak puas terhadap pengalaman masa lampau mereka berdua. Pihak pria mengecam permusuhan tersembunyi dari pasangannya dan pihak wanita merasa pihak pria tidak bertanggung jawab dengan tidak membiarkan dirinya untuk tetap perawanan sampai jenjang pernikahan.
Hal ini menggambarkan bahwa sampai dengan saat ini, keperawanan adalah hal yang penting. Seorang pria adalah orang yang bertanggung jawab atas kehilangan dan malu yang diderita oleh pihak wanita. Pria harus memohon pengampunan atas tindakan itu, jika tidak, Anda tidak akan pernah memiliki hubungan yang sehat dengan istri Anda.
Perbuatan yang dilakukan sebelum pernikahan, tidak lebih dari perampasan atas pemberian paling berharga yang kelak akan diberikan setelah pernikahan. Perbuatan kotor yang dilakukan tidak lebih dari sekedar pemerkosaan atas diri pihak pria dibandingkan aktivitas biologis atas dasar kasih yang tertinggi antara seorang pria dengan wanita.
Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memecahkannya adalah dengan mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Seorang suami terkadang sulit untuk meminta maaf kepada istri, tetapi percayalah, dengan meminta maaf dan bertobat serta melakukan pemulihan, kehidupan berumah tangga bisa berangsur-angsur pulih.
Pertengkaran dan ketidakharmonisan bukan hanya milik pasangan muda yang belum lama menikah atau mereka yang menikah karena "kecelakaan". Walaupun memiliki segalanya dan terlihat sempurna, pasangan yang sudah lama menikah pun bisa saja mengalami problema tersebut. Dalam hal ini, mereka menginginkan dan membutuhkan perubahan, tetapi tidak menemukannya.
Masing-masing merasa muak dengan pertengkaran, percekcokan, ejekan-ejekan yang tajam dan kemarahan yang meledak-ledak setiap kalinya. Dan terkadang bisa saja berujung kepada keputusasaan terhadap hubungan suami istri.
Dalam posisi ini, suami dan istri ada baiknya saling merenung dan mengingat potensi yang dimiliki oleh masing-masing. Banyak orang yang memuji mereka, tetapi mereka sendiri ternyata tidak bisa menghasilkan buahnya di dalam pernikahan mereka.
Satu hal yang mungkin dilupakan adalah keharmonisan dan kebiasaan yang pernah dilakukan ketika setelah menikah. Di tengah kesibukan, mungkin mereka lupa aktivitas-aktivitas yang bisa mengeratkan keluarga mereka. Mereka lupa beribadah, lupa saling mengingatkan, lupa untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga dan mereka melupakan kunci-kunci keharmonisan keluarga.
Sebagai seorang suami, ketika mengahadapi situasi seperti ini, ada baiknya mengambil inisiatif. Ceritakanlah kepada istri tentang segala hal yang manis dan kebiasaan terbaik untuk mengeratkan keluarga. Utarakan dengan suara yang lembut dan pastikan ada kebenaran dalam setiap kata yang diucapkan. Hingga sampai saatnya untuk saling berbicara dan saling membagi perasaan dan pikiran dengan penuh keintiman.
Ungkapkanlah apa yang dipikirkan, curahkan isi hati, mohon pengampunan atas semua kesalahan yang sudah diperbuat, bagikan kerinduan, keinginan-keinginan dan luka-luka yang dialami.
Pernikahan ini perlu pembaharuan. Tapaki dinding pembelahan diri yang telah dibangun untuk melindungi diri masing-masing. Mulailah lagi dengan yang baru, tanamkan sifat saling memberi dan menerima pengampunan.
Mintalah dengan Tuhan untuk memperbarui pernikahan. Dan katakan bahwa ini merupakan suatu bentuk kenyataan baru dalam sebuah pernikahan.
Sulit memang bagi pria untuk melakukan hal tersebut di atas. Penulis sendiri merasakan banyak tantangan yang menghadang walau sudah sering mengikuti kegiatan camp Pria Sejati baik sebagai fasilitator atau panitia. Tapi percayalah, pemenang bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti mencoba. |
|
|
By: Sandy Hatoguan on 13-12-2009 15:17
Sabtu tanggal 12 jam 17.00 kemarin Para alumnus Pria Sejati dan Wanita Bijak termasuk yang single mengadakan perayaan bersama di Belezza dengan Tema " Tiada Perbedaan "
sungguh luar biasa...banyak kesaksian dan acaranya sangat memukau sekali
banyak para Waria yang dipulihkan dan mereka bersaksi apa artinya sebuah kehidupan dan nilai-nilai kehidupan
salah satu diantara mereka bernyanyi dan sangat menyentuh sekali
" Kupandang wajah MU dan berseru pertolongan ku datang dari-MU,peganglah tangan ku jangan lepaskan KAUlah harapan dalam hidupku "
» Balas komentar ini...